My Library

Sebaik-baik kalian adalah yang bermanfaat bagi orang lain

Kontribusi Baytul Hikmah Dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan

KONTRIBUSI BAYTUL HIKMAH DALAM PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN

Oleh : JJ Adik Bajuri (11170210000010) BSA 3A UIN JKT

 

Pendahuluan

            Dalam suatu peradaban yang maju, tidak hanya dikenal tentang wilayah kekuasaan secara teritorial, dan kekuatan tempurnya saja, akan tetapi dalam peradaban tersebut juga berbanding lurus dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Peradaban mesir kuno sekitar sekitar tahun 3150 SM, mampu memimpin suatu peradaban dimana pada saat itu masih zaman primitif, akan tetapi mesir kuno telah membuat pencapaian-pencapaian yang signifikan dalam hal ilmu pengetahuan seperti, pengetahuan matematika, perkembangan tulisan dan sastra, bahkan menurut sebagian sejarawan huruf  hyeroglyf yang digunakan pada masa itu menjadi susunan huruf pertama yang digunakan manusia. Dan dalam teknologinya seperti pembangunan irigasi teratur terhadap lembah nil, pendayungan mineral dari lembah dan wilayah gurun di sekitarnya, serta pembangunan-pembangunan monumen arsitektur yang menakjubkan. Faktor-faktor tersebut menjadi sebab menjadi gemilangnya peradaban-peradaban setelahnya seperti Yunani, Persia, Romawi, hingga islam.[10]

Agama islam juga memiliki  peradaban atau biasa disebut  Al-Hadharah al-islamiyyah dalam bahasa arab yang berartikan peradaban islam. Akan tetapi kalimat arab ini sering diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia dengan “kebudayaan islam” . tentu makna ini berbeda dari kata Al-Hadaharah sendiri yang berartikan peradaban, karena kata budaya dalam bahasa arab disebut dengan  Al-Tsaqofah. Di indonesia sendiri masih banyak orang-orang yang mensinonimkan kedua kata tersebut, dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang, kedua istilah tersebut dibedakan. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan, manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan teknologis lebih berkaitan tentang peradaban. Kalau kebudayaan lebih banyak direflesikan dalam seni, sastra, religi (agama), dan moral, maka peradaban terefleksi dalam politik, ekomomi, dan teknologi.[4]

Peradaban islam secara umum dibagi menjadi 3 periode, yaitu priode klasik ( 650-1250 M ), periode pertengahan ( 1250-1800 M), dan periode mod[1]ern (1800 M-sekarang  ). Periode klasik meliputi masa Nabi Muhammad SAW, Khulafaurrasyidin, Bani Umayyah, dan masa Bani Abbasiyyah. Pada periode pertengahan muncul 3 kerajaan besar islam yang mewakili tiga kawasan budaya, yaitu Kerajaan Usmani di Turki, Kerajaan Safawi di Persia, dan Kerajaan mughal di india. Dan periode modern yaitu islam mulai bangkit kembali dengan melakukan pembaharuan (tajdid). Peradaban islam sendiri mencapai puncak masa keemasannya pada masa Khilafah Bani Abbas, atau lebih dikenal dengan khilafah abbasiyyah,

Kekuasaan dinasti bani abbas atau khilafah abbasiyyah, sebuah khilafah yang melanjutkan kekuasaan bani umayyah. Dinamakan khilafah abbasiyyah karena para pendiri dan penguasa khilafah ini adalah keturunan Ibnu Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Khilafah atau dinasti ini didirikan oleh Al-Saffah Ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Al-Abbas. Kekuasaan khilafah ini bisa dikatakan sangat lama, yaitu dari tahun 132 H-656 H (750 M-1258 M).[4] lebih tepatnya khilafah ini berdiri dan berkuasa sekitar 524 tahun dalam Hijriyah, dan sekitar 508 tahun dalam Masehi, yaitu lebih tepatnya khilafah ini berkuasa selama ±5 Abad lamanya. Tentu dalam rentang waktu yang lama tersebut,banyak hasil-hasil yang telah dicapai baik dalam ilmu pengetahuan maupun teknologi.

Pada mulanya ibu kota negara adalah Al-Hasyimiyah, dekat kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, Al-Manshur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, yaitu Bagdad, dekat bekas Ibu Kota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M.[4] Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia.

Dengan kekuasaan yang sangat lama, tentu dalam Khilafah Abbasiyyah ini memiliki jumlah Khalifah yang banyak juga, yaitu selama berdirinya Khilafah Abbasiyyah ini, ada 37 Khalifah yang memimpin pada masa Abbasiyyah tersebut, dimulai oleh Khalifah As-Shaffah yang berkuasa tahun 750 M, sampai pada khalifah terakhir yaitu Khalifah AL-Musta’sim yang berkuasa sampai tahun 1258 M. kalau dasar-dasar pemerintahan daulat abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu Al-Abbas dan Abu Ja’far Al-Manshur, maka, puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh Khalifah sesudahnya, yaitu Al-Mahdi (775-785 M), Al-Hadi (775-786 M), Harun Al-Rasyid (786-809 M), Al-Ma’mun (813-833 M), Al-Mu’tashimc(833-842 M), Al-Wasiq (842-847 M), dan Al-Mutawakkil (847-861 M).[4]

Popoularitas daulat Abbasiyyah mencapai pun[2]caknya di zaman Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M), dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M). atau lebih tepatnya istilah “ the golden age age of islam” terjadi pada masa kepemimipinan ini. Kekayaan negara pada zaman Harun Al-Rasyid dimanfaatkan untuk keperluan sosial, mendirikan rumah sakit,dan juga lembaga pendidikan dokter dan farmasi, dan salah satu karya terbesarnya yaitu pembangunan awal Bait Al-Hikmah.  Disamping itu pemandian-pemandian umum juga dibangun. Pada zaman itu terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter.Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terjadi pada zaman khalifah ini. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusatraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.[4]

Pada zaman Al-Ma’mun, pengganti Al-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu pengetahuan. Pada zamannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu prestasi besarnya yang terpenting yaitu adalah Bait Al-Hikmah,[2]yang dibangun pertama kali oleh Harun Al-Rasyid,  mencapai puncak  kejayaannya pada zaman Al-Ma’mun. dan pada masa inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Baytul Hikmah

Nama baytul hikmah diambil dari dua kata bahasa arab yaituبيت  (baytun) yang beartikan “rumah” dan kata حكم (hakama), yang berartikan “bijaksana”. Dalam bahasa inggris baytul hikmah dikenal dengan sebutan  The House Of  Wisdom, yang beartikan rumah kebijaksanaan.  Dibangun pertama kali oleh Khalifah Abbasiyyah Harun Al-Rasyid tahun 813 M,[3] terletak di Baghdad, ibu kota Irak. Harun Al-Rasyid sosok yang cinta ilmu dan memotivasi para ulama. Dan Baytul Hikmah dilanjutkan oleh Al-Ma’mun serta berkembang dan mencapai puncak kejayaannya pada zamannya.

Banyak orang-orang dan peneliti yang menganggap Baytul Hikmah ini hanya sebagai perpustakaan besar saja, yang didalamnya terdapat banyak buku-buku yang telah diterjemahkan kedalam bahasa arab, anggapan ini kurang benar dan tepat, hal itu juga yang ditulis oleh Ehsan Masood dalam bukunya yang berjudul Science And Islamic A History,yang menulis bahwa Baytul Hikmah hampir pasti sebuah perpustakaan buku, dan juga tempat untuk beberapa terjemahan serta astronomi.[1] Pernyataan tersebut kurang tepat bahwa [3]Baytul Hikmah sebagai perpustakaan buku, dan juga tempat terjemahan serta astronomi saja, melainkan Baytul Hikmah adalah sebuah perpustakaan besar yang didalamnya banyak buku-buku serta manuskrip-manuskrip yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa arab, Baytul Hikmah juga sebagai pusat peradaban islam, forum para ulama, aula penelitian bagi para pengkaji sekaligus pusat penerjemahan, penyalinan kitab dan  penelitian tentang astronomi.[3]

Hal tersebut dikuatkan bahwa di Baytul Hikmah, beberapa peneliti menggambarkannya sebagai institusi untuk mempelajari sains dan filsafat. Di sinilah, sesuai dengan pandangan seperti itu, bahwa semua sarjana terbesar bekerja dan berdebat, dimana ada bisikan tanpa henti dari pena di atas kertas ketika karya-karya klasik agung diterjemahkan ke dalam bahasa arab.[1]

Khalifah Al-Ma’mun adalah salah satu dari putera Khalifah Harun Al-Rasyid, dan satu saudaranya lagi bernama Al-Amin. Khalifah Al-Ma’mun dianggap oleh para sejarawan sebagai juara besar rasionalisme, dan sebagai khalifah yang mempromosikan ilmu pengetahuan lebih dari yang lain. Dalam sebuah kisah dikatakan bahwa Al-Ma’mun mencapai kemenangan perang atas Bizantium, ia meminta dari mereka sebagai ganti bukan emas atau harta duniawi lainnya, tetapi salinan buku hebat ptolemy tentang astronomi. Dan juga Al-Ma’mun memerintahkan untuk pergi ke Gundeshapur di Persia dan membawa kembali isi perpustakaannya yang hebat, dan untuk mencari sarjana dan penerjemah yang terbaik, untuk menerjemahkannya kedalam bahasa arab.[1]

Gerakan penerjemahan besar-besaran yang digalakkan AL-Ma’mun, sebenarnya sudah dijalankan secara perlahan oleh Khalifah sebelum Al-Ma’mun, yaitu Khalifah Al-Mahdi dan Khalifah Harun Al-Rasyid, tetapi benar-benar terjadi pada masa Al-Ma’mun. manuskrip kuno membanjiri Baghdad[1] dan juga Basra, Al-Ma’mun membawa buku-buku serta manuskrip tersebut menggunakan ratusan unta,untuk diserahkan kepada umat islam setelah perjanjian damai antara Al-Ma’mun dan Kaisar Romawi, Michael II. Selanjutnya ia menghabiskan sekitar tiga ratus ribu dinar untuk kegiatan penerjemahan tersebut.[5] Mereka yang menerjemahkan bukan hanya dari bangsa Arab dan muslim, tetapi banyak juga yang merupakan cendikiawan kristen, penutur asli bahasa Yunani dari kekaisaran Bizantium lama. Mereka semua berkumpul disatu tempat bernama Baytul Hikmah untuk melakukan penerjemahan, penelitian, serta pengkajian terhadap buku-buku, ataupun manuskrip kuno. Mereka melakukan penerjemahan tidak asal dan sembarang, penerjemah kristen Syiria menceritakan bagaimana bahasa Arabnya dikoreksi oleh bos mereka yaitu Al-Kindi.

Gerakan penerjemahan ini juga sebagai alat bisnis untuk mendapat kekayaan yang dihasilkan dari penerjemhan tersebut. Para orang-orang terkenal Bani Musa tampaknya senang [4]untuk membayar penerjemahan 500 dinar satu bulan. Dan elit kaya harus membayar lebih banyak untuk mendapat terjemahan pribadi mereka sendiri dari salah satu karya utama Aristoteles.[1] Hasil tersebut digunakan untuk membiayai gerakan penerjemahan tersebut, termasuk didalamnya para penerjemah dan para ilmuwan, mereka digaji dengan gaji yang besar untuk melakukan pekerjaannya sehingga mereka bisa fokus serta totalitas dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh Khaifah Al-Ma’mun. sehingga hasil yang mereka kerjakan sangat bagus.

Peran kertas juga sangat penting dalam gerakan penerjemahan ini. Karena pada masa itu sebelum kertas datang ke Baghdad, mereka menggunakan perkamen sebagai wadah untuk menulis. Karena perkamen sangat mahal, sulit didapat, dan tebal, maka kehadiran kertas sangat membantu dalam penerjemahan ini. Karena kertas disisi lain murah, tersedia dalam jumlah besar, ringan dan juga tipis, sehingga sangat cocok untuk membantu penerjemahan ini. Ada sebuah kisah apokrif bahwa kaum Muslim mempelajari pembuatan kertas dari tahanan Tiongkok yang mereka tangkap dalam pertempuran Tallas. Apa pun itu, kertas tiba di islam pada waktu yang hampir bersamaan pendirian Baghdad oleh Abbasiyyah[1].Al-Ma’mun yang memprakasai gerakan penerjemahan besar-besaran tersebut, menjadi titik awal pengembangan ilmiah peradaban islam.

Al-Ma’mun juga mendirikan observatorium pertama islam di Shamsiya (829 M),[1] yang digunakan oleh para astronom untuk pengamatan sistematis tentang gerakan yang ada dialam semsta. Sejak awal ia membuat pembaruan penting untuk astronomi kuno seperti pengukuran apoge matahari dan pergerakan planet. Dia juga memiliki peta dunia yang digambar dengan akurasi sebanyak mungkin dengan kondisi pengetahuan saat ini. Al-Ma’mun juga menginstrusikan saudara- saudara Bani Musa untuk memeriksa sesuatu yang telah dia baca disalah satu buku sains kuno yang baru diterjemahkan, tentang ukuran keliling bumi, yaitu deiberikan 24.000 mil. Bani Musa membuat perhitungan mereka dan mengkonfirmasi keakuratan pengukuran kuno, merasa belum puas, Al-Ma’mun mengirim Bani Musa untuk latihan ditempat lain, dan setelah itu baru ia puas dengan hasil dan keakuratan pengukuran kuno. Kegiatan tersebut juga dibawah penelitan seorang Al-Khawarizmi yang brilian, dia melakukan pekerjaaan terbaiknya dibawah perlindungan Al-Ma’mun. dan kegiatan penelitian pengukuran keliling bumi ini, menjadi salah satu karya terbesar dari semua ilmuwan Muslim.[1]

Di Baytul Hikmah terdapat tokoh-tokoh dan para ulama besar islam yang bekerja disana. Mereka adalah Hunain bin Ishaq, Yuhana bin Masawih, Yuhanna bin Al-Bithriq, para putra Musa bin Syair, mereka adalah Muhammad Ahmad, Al-Hasan, Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, Ilan Asy-Syu’ubi, Sa’id bin Harun Al-Katib, Tsabit bin Qurrah Al-Harrani, Ya’qub bin Ishaq Al-Kindi, Abu Sahl Al-Fadhl bin Nubkhat dan lainnya. Mereka bekerja, belajar, meneliti, menerjemahkan dan mengarang kitab disana.[3][5]

Salah satu tokoh yang perannya begitu penting dalam Baytul hikmah ini, dan karya nya sangat penting dalam ilmu pengetahuan saat ini, adalah Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, atau kita kenal Al-Khawarizmi, dan dikenal di Barat Al-Cowarizmi. Beliau adalah tokoh pertama yang mengenalkan konsep al jabar dan hisab. Banyak sekali karya beliau yang beliau pelajari tentang ilmu matematika, dan menghasilkan konsep-konsep matematika populer yang masih digunakan hingga saat ini. Seorang matematikawan muslim yang dijuluki “ Bapak Algoritma”, juga ahli musik, astronimi dan geografi. Karyanya menjadi rujukan dunia hingga kini

Dalam bukunya yang paling monumental berjudul Al-Mukhtashar fi hisab Al-Jabar Wal-Muqobalah,Al-Khawarizmi juga memperkenalkan kepada dunia ilmu pengetahuan angka nol (0) yang dalam bahasa arab disebut sifr, sebelum Al-Khawarizmi memperkenalkan angka nol, para ilmuwan mempergunakan abakus, semacam daftar yang menunjukan satuan, puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya untuk menjaga agar setiap angka tidak saling tertukar dari tempat yang telah ditentukan dalam hitungan.[6]

Akan tetapi hitungan seperti itu tidak mendapat sambutan dari kalangan ilmuwan Barat ketika itu, dan mereka lebih tertarik mempergunakan Raqam Al-Binji (daftar angka arab, termasuk angka nol), hasil penemuan Al-Khawarizmi. Dengan demikian, angka nol baru dipergunakan orang Barat sekitar 250 tahun setelah ditemukan Al-Khawarizmi. Dan juga dari beberapa bukunya, Al-Khawarizmi mewariskan beberapa istilah matematika yang masih dipergunakan hingga kini. Seperti sinus, kosinus, tangen dan kontangen.[6]

Begitu banya[6]k kontribusi dan hasil-hasil yang telah Al-Ma’mun dan Baytul Hikmahnya lakukan untuk pengembangan ilmu pengethuan, dan menjadi jelas pula bahwa Baytul Hikmah bukan hanya sebagai perpustakaan besar, tempat menerjemahkan dan astronimi saja. Dan juga peran Al-Ma’mun dalam menegmbangkan ilmu pengetahuan, kecintaanya terhadap ilmu pengetahuam dan perhatiannya terhadap para ilmuwan. Dan juga perkembangan ilmu pengetahuan disana berdampak juga pada kehidupan kota Baghdad dimana kota tersebut menjadi pusat peradaban dunia pada saat itu. Banyak sejarwan yang menyebut Baghdad dengan sebutan “Negeri 1001 Malam”. Hal itu juga yang ditulis oleh Ahmad Al-Ya’qubi pada kunjungannya ke Baghdad abad ke sembilan, pada masa Khalifah Al-Ma’mun, bahwa “di Bahdad banyak orang yang datang dari negara jauh dan dekat, dan orang-orang dari semua pihak lebih suka Bahdad dari tnah air mereka. Tidak ada yang lebih terpelajar daripada para sarjana Baghdad, yang memiliki informasi lebih dari tradisionalis mereka, yang lebih meyakinkan daripada teolog mereka dan lebih puitis dari para penyair mereka”.[1][7]

Realita yang terjadi di indonesia sekarang ini, pemerintah indonesia kurang memperhatikan tehadap penelitian, baik penelitian ilmu pengetahuan maupun teknologi. Karena kurangnya pemerintah indonesia dalam pengalokasian dana, hal ini juga di ungkapkan kepala LIPI ( Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Iskandar Zulkarnaen yang menuturkan idealnya Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mengalokasikan dana. beliau mengatakan “Seharusnya ini menjadi perhatian pemerintah. Karena selama ini LIPI menyelenggarakan penelitian bersama sponsor” menurutnya, resources yang ada saat ini memang terbatas. Meski demikian, kegiatan tetap dilaksanakan.[7]

Indonesia se[8]bagai negara berkembang, yang sudah merdeka 73 tahun lamanya, harus lebih belajar kepada negara-negara maju didunia, seperti Negara Jepang, bagaimana negara itu bisa maju dan terkenal karena ilmu pengetahuannya dan teknologi yang diciptakan.[8] Para peneliti disana diberlakukan dengan istimewa dan disambut antusias dengan penemuan mereka, sehingga mereka dapat bekerja dan menliti secara totalitas. Realita yang kita hadapi bukan anak indonesia yang tidak mampu, akan tetapi kurangnya antusias pemerintah akan hal ini. Berbagai sumber riset menyatakan seperti Unesco Institute for Statstic (UIS) Data Center, 2017 menyatakan tentang bahwa anggaran indonesia kecil terhadap penelitian, pernyataan ini  dilihat dari rasio pengeluaran penelitian dan pengembangan terhadap PDB-atau Gross Expenditure on R&D(GERD), bahwa indonesia belum mencapai angka 1 persen, yaitu hanya sebesar 0,085 persen. Di tingkat ASEAN indonesia kalah dari Singapura (2,0 persen), dan malaysia (1,1 persen).[9] Ini menunjukan bahwa indonesia kurang berkomitmen tinggi terhadap riset. Tentu sebagai bangsa Indonesia kita berharap pemerintah indonesia lebih memperhatikan dan peduli terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian dan teknologi, disamping memperhatikan ekonomi ,kesejahtraan dan hal lainnya.

 

Kesimpulan

Khalifah Al-Ma’mun menjadi Khalifah yang benar-benar mencintai dan peduli terhadap ilmu pengetahuan, salah buktinya terlihat pada perkembangan Baytul Hikmah yang mencapai puncak kejayaannya pada zamannya. Baytul Hikmah bukan hanya sebagai perpustakaan besar, tempat terjemah dan astronomi melainkan juga tempat Baytul  sebagai pusat peradaban islam, forum para ulama, aula penelitian bagi para pengkaji sekaligus pusat penerjemahan, penyalinan kitab dan  penelitian tentang astronomi.

Kontribusi yang dihasilkan Baytul hikmah selain dari pengembangan ilmu pengetahuan, juga melahirkan tokoh-tokoh, ulama, dan para ilmuwan yang sangat cemerlang. Di samping itu efek yang dihasilkan karena Baytul Hikmah ini juga berengaruh terhadap perkembangan kota Baghdad. Baghdad menjadi kota yang sangat maju dan sebagai kota yang menjadi pusat peradaban islam dan dunia pada masa itu, hingga pada zaman itu juga dikenal dengan sebuta “The Golden Age of Islam”, atau zaman keemasan islam.

Sebagai negara yang berkembang, pemerintah Indonesia harus lebih memfokuskan perhatiannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, penelitian dan teknologi. Karena dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi maka berkembang juga negaranya, dengan rakyat yang berintegritas dan berintelektual tinggi, sehingga Indonesia dapat menjadi negara maju dan bersaing dengan negara maju lainnya dilingkup dunia internasional. Suatu negara ataupun peradaban yang maju bukan dilihat dari luas wilayah dan kekuatan tempurnya saja, melainkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena dengan mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan maka suatu ne[9]gara atupun peradaban akan menjadi terdepan.

Refrensi

  1. Ehsan Masood, Science & Islam A History, United Kingdom: Icon Books, 2009.
  2. Montgomery Watt, Kejayaan islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1990.
  3. Muhammad Husain Mahasnah, Pengantar Studi Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,2016.
  4. Dr, Badri Yatim, MA, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II, Cetakan ke-28 Depok: PT Raja Grafindo Persada, 2017
  5. Al-Nadim, M.I, Al-Fihrist, Beirut: Dar Al-Ma’rifah, 1997
  6. Mada Sanjaya WS,Ph.D, Ilmuwan Muslim, ( https://kupdf.net/download/ilmuwan-muslim_58e7aafadc0d60656dda97fe_pdf#, Diakses pada 8 januari 2019,pukul 19.00 WIB).
  7. Okenews, Rabu 28 September 2016 17.00 WIB, Diakses dari (https://news.okezone.com/read/2016/09/28/65/1500808/penelitian-harusnya-jadi-perhatian-pemerintah 9 desember 2019, pukul 01.00 WIB).
  8. Id, 28 September 2017, Diakses dari ( https://www.bernas.id/47337-kenapa-jepang-jauh-lebih-maju-dari-pada-indonesia-ini-jawabannya.html, pukul 02.00 WIB)
  9. Id, 29 agustus 2017, Diakses dari ( https://tirto.id/kondisi-dunia-penelitian-di-indonesia-cvvj, pukul 15.30 WIB)
  10. Wikipedia, Mesir Kuno, Diakses dari (https://id.wikipedia.org/wiki/Mesir_Kuno, pukul 17.00 WIB).[10]

 

 

*Tugas akhir mata kuliah Islam dan Ilmu Pengetahuan, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

 Download Makalah